Kamis, 25 Juni 2009

CARITA 10 KEDOK

Ku Hadi Faturahman

Aya kedok napel na beungeut
Lain hiji tapi sapuluh rupana
Nu kahiji kedok pajabat
Nu kadua kedok ulama
Nu katilu kedok selebritis
Nu kaopat kedok pulitisi
Nu kalmia kedok guru
Nu kagenep kedok hakim
Nu katujuh kedok patani
Nu kadalapan kedok pengusaha
Nu kasalapan kedok wartawan
Nu kasapuluh kedok dokter
Nepi ka beungeut aslina mah geus teu nyaho rupana


SASAKALA GIRILAWUNGAN


Pada jaman dahulu tersebutlah seorang raja yang bernama Pangeran Giri Layang masih keturunan Pajajaran. Dalam mengolah negara Pageran Giri Layang dibantu oleh adik perempuannya, yang bernama Nyi Putri Giri Larang. Pangeran Giri Layang adalah seorang raja yang adil bijaksana dan suka bekerja keras dalam mengolah negara demi kesejahteraan rakyatnya. Patihnya, yang bernama Endang Capang, hampir setiap hari ditugasi berkeliling memeriksa pertanian rakyat, memeriksa pengairannya, dan mengajak rakyat bergotong royong membuka hutan untuk ditanami palawija atau padi. Baginda raja sangat mem-perhatikan pertanian, yang menjadi mata pencaharian rakyatnya dan memberikan penerangan bagaimana cara bertani agar hasilnya berlimpah. Baginda raja sangat mengutamakan kepentingan ne­gara dan rakyatnya. Karena itu, tidak heranlah jika negara itu ber­limpah - limpah dengan hasil tanaman.

Rakyatnya bergembira sebab makanan berlimpah - limpah. Makanan tak usah dibeli, paling - paling saling bertukar dengan temannya. Takaran yang dipakai waktu itu untuk mengukur barang yang dipertukarkan ialah batok kelapa atau ruas bambu. Untuk mengukur panjang atau lebar dipergunakan jengkal, hasta, atau tombak. Demikian juga untuk penerangan di tiap rurnah dipergunakan pelita dan sebangsanya yang minyaknya terbuat dari biji - bijian yang diperas, seperti keliki, jarak, atau kenari.

Jumlah penduduknya waktu itu tidak banyak sehingga letak satu rumah dari.rumah yang lainnya agak berjauhan. Walaupun rumah - rumah letaknya berjauhan, penduduk tidaklah merasa ta-kut sebab setiap sore ramai terdengar dari setiap rumah bunyi -bunyi gambang atau suling. Demikianlah negara aman tentram, subur makmur, rakyat patuh dan hormat kepada rajanya yang ber-sungguh - sungguh memperhatikan kepentingan rakyatnya.

Pada suatu waktu, ketika Pangeran Giri Layang sedang berca-kap - cakap dengan adiknya, Nyi Putri Giri .Layang, tiga-tiba adik-adiknya berkata: "Kanda! Semoga tidak menyinggung hati kanda bahwasanya ada sesuatu yang akan adinda katakan. Dinda sudah lama mem-bantu kakanda mengolah negara dan sudah banyak ilmu yang din­da peroleh. Sekarang jika sekiranya kanda mengizinkan dinda akan pergi ke tempat lain, semoga dinda mendapatkan kesaktian yang lebih dari sekarang."

Mendengar permohonan adiknya yang sangat dicintainya itu Pangeran Giri Layang berdiri dan mengelus-elus rambut adiknya seraya berkata: "Dinda! Tentu saja kanda tidak dapat menghalang - halangi maksud dinda pergi ke tempat lain mencari kesaktian yang lebih tinggi. Semoga dalam perjalanan dinda selamat tak ada suatu apa. Kandapesan agarjangan lupa dinda membawa air sumurSudajaya danjangan pergi kearah timur melampaui perbatasan, kalau - kalau di jalan mendapat rintangan. Oleh kanda didoakan semoga selamat dalam perjalanan dan berhasil apa yang dinda maksud." Setelah pamit berangkatlah Nyi Putri Giri Larang cepat sekali walaupun seorang perempuan dan seorang diri, beliau sedikitpun tidak merasa sakit maklum masih keturunan Pajajaran. Nyi Putri terus berjalan lurus ke arah timur naik gunung turun gunung, keluar hutan masuk hutan, lembah yang dalam dan tebing yang curam dilaluinya.

Sesudah berbulan-bulan lamanya, pada suatu waktu sampilah Nyi Putri Giri Larang ke sebuah hutan belantara yang belum ditem-puh oleh manusia. Kera, lutung, burung, dan binatang liar ramai sekali berbunyi bersahut - sahutan dengan temannya, .bagaikan mengucapkan selamat datang kepada Nyi Putri Giri Larang - Nyi Putri Giri Larang sedikit pun tidak mempedulikan bunyi - bunyi itu dan bunyi binatang - binatang hutan lainnya, beliau terus berjalan di bawah pohon - pohon yang besar yang usianya sudah ratusan tahun sambil meretas jalan dengan menerobos akar - akar yang menghalanginya.

Ketika Nyi Putri Giri Larang sedang menerobos rumpun kaso yang menghalanginya,- beliau tercengang melihat sebuah taman yang sangat indah di tengah - tengah hutan belanta­ra. Hatinya penuh dengan berbagai pertanyaan, siapa gerangan yang membuat taman itu dan siapa yang mau bersenang-senangdi taman tengah hutan itu.
Di tengah-tengah taman ada kolam yang besar, airnya jernih sehingga pasir putih di dasarnya jelas tampak kena sinar matahari tepat di atasnya. Di sekeliling kolam penuh dengan bunga yang beraneka warna yang sedang berkembang, merah, putih, kuning, dan ungu. Kupu - kupu beterbangan di atasnya mengicap madu bunga. Siapa saja akan tertarik oleh keindahan taman itu.

Karena tertarik oleh keindahan taman tak terasa lagi oleh Nyi Putri Giri Larang, tahu - tahu sudah sampai di pinggir kolam. Kedua kakinya sampai mata kaki diremdamkan ke dalam air, rasanya dingin sekali. Karena waktu itu tengah hari, matahari sedang panas -panasnya memancarkan sinarnya, Nyi Putri merasa kepanasan dan letih, beliau ingin mandi di kolam itu. Pakaiannya ditinggalkannya dan disimpan di atas sebatang kayu yang terletak tidak jauh dari sana, yang dikenakan hanya pakaian dalamnya, kemudian Nyi Putri meremdankan badannya, berenang bersuka ria karena airnya di-ngin menyegarkan seluruh badan.

Sebetulnya taman itu kepunyaan Raja Majapahit, baginda raja membuat taman itu untuk mengasingkan diri, menenangkan pikir-an, dan tempat beristirahat sepulang berburu. Waktu itu juga ada seorang patih yang diperintah baginda memeriksa taman. Sepu­lang berburu patih mampir ke taman maksudnya memerksa kolam kalau - kalau airnya berkurang. Ketila dilihatnya air kolam itu bergerak - gerak, bergelombang berbeda dari biasanya, patih terkejut dan ketika dilihatnya ada seorang putri cantik sedang mandi seorang diri, matanya tak berkedip, melekat kepada putri. Ketika itu patih teringat kepada rajanya yang sedang bersedih hati mencari putri untuk dijadikan permaisyurinya. Sekarang kebetulan mendapatkan putri cantik laksana bidadari. Tak pikir panjang lagi patih meloncat ke arah kayu tempat menyimpan pakaian Nyi Putri Giri Layang dan terus diambilnya. Ketika putri melihat pakaiannya diambil patih segeralah naik ke darat hendak merebutnya, tetap'i patih sudah bersiap - siap dan terus lari sambil berteriak.

"Hai, Nyi Putri! Kami bukan tidak sopan terhadap kamu, melain-kan kami sudah mendapatkan keuntungan yang besar sekali sebab raja kami, Raja Majapahit, tentu akan bergembira sekali dapat ber-temu denganmu. Sekarang pakaianmu ada pada kami jika kamu perlu kejarlah ke Majapahit."

"Nyi Putri Giri Layang rnembalas berteriak sambil mengejar: "Hai, pencuri, serahkan pakaian kami! Kamu tidak sopan sudah berani mencuri pakaian orang yang sedang mandi."

Patih Majapahit tidak memperdulikannya terus lari, tetapi dengan sengaja memberi kesempatan kepada putri yang meng-ejarnya sebab kadang - kadang cepat larinya dan kadang - kadang lambat - lambat. Ketika putri sudah dekat kepadanya, patih lari lagi dengan cepat, tetapi jika sudah jauh dari putri dia berjalan perlahan lahan. Nyi Putri Giri Larang terus rnengejarnya sehingga akhirnya sampai ke keraton Majapahit.

Setiga di keraton, patih menyembah seraya berkata kepada Raja Majapahit yang kebetulan sedang duduk - duduk di keraton: "Gusti yang mulia, hamba mendapat rizki yang dapat menghi-burhati Gusti. Hamba persembahkan bungkusan ini kepadaGusti."

Ketika baginda raja membuka bungkusan dari patih, wajahnya berseri - seri, sambil tersenyum melihat pakaian putri.

"Syukurlah, syukur, kamu patih yang bijaksana tahu kepada keinginan rajanya. Mana putri itu?" Baru saja baginda memuji patihnya tiba - tiba terdengar teriakan Nyi Putri Giri Larang yang sedang marah: "Hai pencuri! mana pakaian kami, kamu bedebah, kamu manusia biadab, berani mengambil pakaian perempuan yang sedang mandi."

Prabu Majapahit tersenyum saja mendengar makian itu. Ba­ginda maphum kepada orang yang sedang marah dan kemudian berkata dengan lemah lembut: "Putri cantik, janganlah gusar! Sabarlah, pakaian itu tidak akan kami apa-apakan, bahkan akan kami ganti berlusin - lusin dengan pakaian yang serupa malahan lebih bagus dari itu. Sekarang beristirahatlah, bersihkan keringat dan mandilah dengan air dingin. Kami ingih tahu siapa nama dan dari mana asal?

Nyi Putri Giri Larang menjawab sambil bertolak pinggang: "Hai, Bapak maling. Jika kamu tidak tahu, nama kami Nyi Putri Giri Larang, adik Pangeran Giri Layang, keturunan Pajajaran. Seka­rang serahkanlah pakaian kami, jika tidak kamu serahkan, keraton dan seisinya akan kami hancur ratakan."

Raja Majapahit tersenyum saja kemudian menjawab: "Kalau demikian, terima kasih, sekarang sudah jelas. Kami beruntung sekali menemukan putri cantik dan keturunan Pajajaran. Memang itu yang kami cari - cari dari dahulu. Sekarang begini, jangan menimbulkan keributan sebab akibatnya rakyat yang menjadi korban. Lebih baik marilah kita berunding di sana di tempat yang dingin, nanti tentu pakaian itu akan kami serahkan."
Nyi Putri Giri Larang mengikuti Prabu Majapahit pergi ke balairung kemudian duduk berhadapan. Prabu Majapahit berkata dengan lemah lembut dan penuh kebijaksanaan.

"Nyi Putri yang cantik. Tidak baik kita mencari - cari keributan. Sekarang alangkah baiknya jika kita mencari ketentraman hati masing - masing. Bagaimana jika sekiranya Nyi Putri kami jadikan permaisyuri Majapahit. Bersediakah atau tidak? Jika sekiranya ber-sedia nanti pakaian Nyi Putri akan kami serahkan, tetapi jika tidak tentu tidak akan kami serahkan."

Setelah mendengar pertanyaan itu aneh sekali badan Nyi Putri menjadi lemah, tak ada tenaga sedikit pun, laksana kapas terkena air, tak berdaya tak bertenaga. Dalam keadaan demikian, Nyi Putri teringat kepada pesan kakaknya, Pangeran Giri Layang, bahwa janganlah sekali - kali menyeberang perbatasan sebelah timur se­bab kalau memaksa melanggar larangan itu akan hilang segala kesaktian. Kemudian Nyi Putri termenung memusatkan pikiran dan hatinya memohon kepada Dewa Agung bagaimana memberikan jawaban dan bagaimana caranya agar dirinya selamat. Sesaat sete­lah itu Nyi Putri segera menjawab: "Baginda Raja Majapahit! Hamba sekarang mengakui telah ka-lah kesaktian. Karena itu, baiklah hamba bersedia menjadi permai­syuri Majapahit, hanya hamba ada satu permohonan. Jika baginda bersedia memenuhi permohonan itu, sekarang juga hamba berse­dia."

Baginda raja segera bertanya dengan bergembira."Oh, begitu. Coba katakan sekarang juga apa gerangan permintaan itu. Mau emas berlian atau istana yang indah, tentu akan segera kami penuhi." nyi Putri Giri Larang menjawab.

"Permohonan hamba tidak seberapa. Bukan ingin emas berlian atau istana indah sebab itu semua sudah ada pada hamba. Permo­honan hamba ini hanyalah jika nanti hamba sudah menjadi permai­syuri Majapahit janganlah sekali - kali kaum laki - laki mengganggu pekerjaan kaum perempuan. Jika nanti baginda melanggar permo­honan hamba itu pasti baginda akan mendapat penderitaan sebagai akibatnya.

Prabu Majapahit menyanggupi permohonan Nyi Putri Giri La­rang yang tidak seberapa itu.

Konon, entah sudah berapa tahun Nyi Putri Giri Larang menjadi permaisyuri Majapahit, sekarang Nyi Putri sedang mengandung. Kandungannya makin lama makin besar. Baginda Prabu Majapahit alangkah gembiranya melihat permaisyuri sudah mengandung sebab akan mempunyai keturunan yang akan menggantinya.

Pada suatu hari Nyi Putri Giri Larang sedang menanak nasi. Karena hari sangat panas, Nyi Putri ingin mandi. Kemudian Nyi Putri memberitahukan kepada baginda raja bahwa beliau akan mandi dulu dan titip apa yang sedang dimasaknya. Sesudahnya Nyi Putri pergi hendak mandi, Prabu Majapahit merasa aneh sekali, biasanya juga tidak menitipkan apa yang sedang dimasaknya. Karena itu, baginda raja penasaran ingin mengetahui apa yang sedang dima­saknya. Kuali yang airnya sedang mendidih dan asapnya mengepul ke atas itu dibuka baginda tutupnya. Baginda sangatlah terkejut sebab yang direbusnya itu tidak lain lalah padi. Padi yang masih padatangkainya itu diangkatnya, diperhatikannya. tetapi kemudian dimasukkannya kembali dan ditutupnya. Baginda raja terus ke tern-pat duduknya semula.

Ketika Nyi Putri Giri Larang pulang dan mandi terus ke dapur maksudnya hendak menyediakan santapan. Ketika tutup kuali di-bukanya, Nyi Putri sangat terkejut sebab nasi belum masak masih tetap padi pada tangkainya. Nyi Putri Giri Larang sangat marah sebab tentu baginda raja sudah membukanya. baginda raja sudah melanggar permohonannya, baginda tidak menepati janji. Kema-rahan Nyi Putri sudah tak dapat ditahannya lagi akhirnya Nyi Putri berteriak mencaci maki baginda raja: "Hai, Prabu Majapahit! Meskipun kamu adalah raja yang disem-bah oleh semua rakyat dan kami adalah permaisyuri, sejak hari ini tidak akan kami hormati sebab kamu sudah melanggar permo-honan kami, sudah berani membuka rahasia kami."

Setelah memarahi raja, Nyi Putri Giri Larang sambil mengambil pakaiannya yang dahulu, pakaian dari Pajajaran, melarikan diri dengan cepat tidak menolah baginda raja yang sedang terkejut dan terpaku melihat perbuatan Nyi Putri.

Karena menyambat ajian angin, Nyi Putri Giri Larang larinya cepat sekali laksana angin yang berembus dengan kencangnya, lurus ke arah barat. Tidak lama Nyi Putri sudah ada di keraton kakaknya. Setibanya di keraton, Nyi Putri segera memeluk pangkuan kakaknya yang sedang duduk. Nyi Putri menangis mohon maaf atas segala kesalahannya.

Nyi Putri Giri Larang menceritakan kepada kakaknya segala pengalamannya dari mulai meninggalkan kakaknya, menjadi permaisyuri dan mengandung, sampai bertemu kembali, tidak ada yang tidak diceritakannya.

Adapun kakaknya, Pangeran Giri Layang, mendengar segala penderitaan yang telah terjadi atas adiknya itu sangatlah bersedih hati, kemudian berkata, "Sudah saja adikku, jangan mengingat -ingat kejadian yang telah lalu, hal itu adalah kehendakDewaAgung. Sekarang beristirahatlah kas.ihan kepada bayi dalam kandungan kalau - kalau ada akibatnya."

Sebetulnya, Pangeran Giri Layang merasa cemas sebab adiknya itu melarikan diri dari suaminya, Raja Majapahit. Tentu saja awal akhir akan datang tentara Majapahit menyusul mencari Nyi Putri Giri Larang. Akan tetapi, kecemasannya itu tidaklah diperlihatkan-nya kepada adiknya sebab takut kalau - kalau ada akibatnya bagi bayi yang sedang dikandungnya. Meskipun hati baginda penuh dengan kecemasan dan kekhawatiran dan selalu berpikir bagai-mana nanti kalau tentara Majapahit datang menyerang, baginda merasa bersuka cita sebab akan mempunyai putra yang akan mene-ruskan kerajaannya.

Tiba pada saatnya Nyi Putri Giri Larang melahirkan seorang bayi laki - laki, selamat tak ada suatu apa. Bayi laki - laki itu diberi nama Adipati Jatiserang.

Pangeran Giri Layang sangat berhati - hati memelihara putra adiknya itu. siang malam tidak lepas dari perhatian dan penjagaan-nya sehingga cepat sekali pertumbuhan anak itu. Pada suatu malam Pangeran Giri Layang mendapat petunjuk dari kakeknya yang sudah tiada dari Pajajaran bahwasanya mulai sekarang harus bersiap - siap sebab tentara Majapahit akan menye­rang dan akan mengambil Putri Giri Larang.

Besoknya, segeralah Pangeran Giri Layang mengumpulkan semua patih dan para menteri unt'uk merundingkan persiapan menahan serangan tentara Majapahit. Patih Endang Capang, patih andalan negara, yang menjadi tulang punggung kerajaan, ditugasi menggali tanah membuat kulah, banyaknya empat buah.

Setelah melihat bahwa Patih Endang Capang selesai membuat kulah, berserulah Pangeran Giri Layang di hadapan para menteri, penggawa, perajurit, dan seluruh rakyat, "Kami bukannya tidak sanggup menghadapi tentara Majapahit, melainkan kami kasihan kepada rakyat, kami sangat mencintai rakyat. Kami tidak mau meli­hat negara menjadi tempat banjir darah dan rakyat menjadi korban. Kami rela berkorban demi kepentingan negara dan rakyat. Karena itu, kulah yang empat buah itu untuk tempat kami dan keluarga kami bersembunyi Kalau nanti musuh sudah menyerang, kami
minta agar segera keempat kulah itu ditimbuni tanah dan kami peliharalah sebagaimana memelihara mayat. Meskipun negara ini dikuasai oleh raja lain, kami menghendaki negara ini tetap aman, tentram, dan damai, loh jinawi gemah ripah kerta raharja, rakyatnya takkurang suatu apa. Hanyasebagai tandanyadi atas kulah itu kami akarvmenanamkan pohon bungur."

Sesudah selesai Pangeran Giri Layang memberikan amanatnya, baginda beserta Nyi Putri Giri Larang dan putranya masuk ke dalam kulah, sedangkan kulah yang lainnya untuk keluarganya dan orang brang yang dekat kepada baginda. Tidak berapa lama tentara Majapahit sudah datang menyerang, suaranya ramai sekali, berteriak - teriak seperti yang sedang ber-buru saja layaknya.
" Pasukan tentara Majapahit dipimpin oleh Patih Mangkunagara dan Patih Surapati. Ketika sampai di pintu gerbang segeralah Patih Mangkunagara bertanya dengan suara keras kepada latih Endang Gapang.
"Hai, penjaga! Siapa namamu, apa nama negara ini, dan siapa rajanya?"
Patih Endang Capang segeralah menjawab dengan sopan santun agar musuhnya tidak marah.
"Hamba bernama Patih Endang Capang, negara ini ialah Negara Giri, dan rajanya bernama Pangeran Giri Layang."
Patih Mangkunegara tertawa terkekeh - kekeh karena sangat bergembira, maksudnya tercapai.
"Kebetulan sekali! Negara ini yang kami cari - cari sudah lama. Kamu tahu. Pangeran Giri Layang itu mempunyai adik, yang bernama Nyi Putri Giri Larang. Nah, Nyi Putri Giri Larang adalah permaisyuri raja kami. Beberapa waktu yang lalu Nyi Putri Giri Larang melarikan diri. Nah, kami bertanya. Adakah sekarang Nyi Putri di sini? Sekarang juga akan kami bawa kembali ke Negara Majapahit."

Betul sekali. Nyi Putri Giri Larang sudah mempunyai seorang putra, yang bernama Adipati Jatiserang. Putranya sudah besar, hanya sekarang tidak ada di sini, sedang menuntut ilmu mencari kesaktian. Adapun Pangeran Giri Layang dan Nyi Putri Larang sudah wafat. Kalau tidak percaya mari sekarang kita pergi ke kuburannya," Jawab Patih Endang Capang.
Berangkahlah Patih Mangkunagara, Patih Surapati, dan semua tentara Majapahit diiringkan oleh Patih Endang Capang ke kuburan, tempat Pangeran Giri Layang hersembunyi. Setibanya di sana semua saling berpandangan sebab yang dicarinya tidak ada. Me-reka penasaran, mereka akan menggali kuburan. Akan tetapi, baru saja akan mulai menggali kuburan tiba - tiba semuanya menjadilesu, seluruh badannya lemah, tak bertenaga sedikit pun, jangankan akan menggali kuburan mengangkat cangkul pun sudah tak kuat.

Kemudian Patih Mangkunagara berseru kepada semua tentaranya," Hai, tentara Majapahit! Kita semua jangan pulang ke Negara Majapahit sebab kami malu pulang dengan hampa tangan, tak ada hasilnya. Sekarang lebih baik kita "ngalawung"1)di sini menunggu Nyi Putri Giri Larang keluar sebab kami yakin bahwa Nyi Putri itu tidak meninggal melainkan bersembunyi. Sekarang kalian bertempat tinggal saja di sini."

Demikianlah, sejak waktu itu negara itu disebut Negara Girilawungan. Adapun kampung tempat patih dan tentara Majapahit "ngalawung", bersemuka, bertemu berhadap-hadapan, sampai sekarang masih ada, yang disebut Babakan Jawa.

1' Lawung, dilawungkeun ialah disemukan, dipertemukan berhadap - hadapan (yang mepdakwa dan yang didakwa) sambil mendengarkan pengakuannya masing - masing.'

NGABANGUN GUHA SUNYARAGI

Pada suatu sore di Kesultanan Pakungwati terlihat terang benderang lampu - lampu yang dipasang di Paseban, di Pancaratna, dan di Pangada. Jelas Gusti Panembahan akan menerima para pembesar, mungkin tamu - tamu agung. Lihat saja para nayaka, santana mantri, para kamantren, apalagi parasenapati telah mengenakan pakaian kebesaran. Nampak anggun agung wibawanya.

Tak lama kemudian datanglah rata - singha, kereta pembesar, kudanya bejajar enam ekor, berbulu putih bersih. Dari dalam keraton santana mantri membawa payung kuning, menjemput para pembesar yang baru saja turun dari rata - singha.

Itulah tiga orang priyagung Cina, serba gagah. Berpakaian busana keningratan negara Cina. Ketiga orang itu adalah Sam Po Khong, saudagarperahu paling kayadiPropinsi Yunan, laluSamPo Toa Lang yang sudah lama bermukim di pantai bumi Pakungwati, dan seorang lagi Sam Po Toa Jin. Semuanya saudagar kawakan yang terkenal di seluruh Pulau Jawa.

Rupanya mereka akan menghadap Kangjeng Gusti Panem-bahan Cirebon di Paseban karena mereka sudah biasa berkenalan dengan para raja atau sultan di seluruh Nusantara. Mereka itu akan menjajagi kerja sama, baik di bidang perdagangan maupun pem-bangunan di bumi Pakungwati.

Benar saja, di Paseban ketiga priyagung itu menyanggupi membangun pasanggrahan Taman air Sunyaragi, biayanya sudah ditentukan dan sudah pula tersedia. Sekarang tinggal menentukan lamanya waktu saja dalam berapa bulan pesanggrahan dapat sele-sai.

Kata priyagung Cina sanggup tiga bulan, tetapi Sang Panembahan Cirebon menolak, katanya terlalu lama. Lalau mereka berunding lagi, tetapi kedua pihak belum mendapat kesepakatan. Lalu disanggupinya selesai dalam waktu seminggu. Gusti Panembahan masih menolak, katanya masih terhitung lama.

Akhirnya, para priyagung Cina menyanggupi membangun pe­sanggrahan itu selesai dalam sehari, sebagaimana keinginan Sang Panembahan. Sesudah menghadap, para tamu itu pulanglah. San-tana mantri, nayaka membereskan bekas tamu, lampu - lampu dan damar sewu dimatikan.

Esok paginya sudah banyak perajurit Cina menjaga di pinggir alun - alun Sipatahunan dan di pinggir rawa segara yang luas dan bening sekali airnya sehingga tampak jelas ikan - ikan yang sedang saling berkejaran.

Hari itu rakyat yang dekat ke sana menjadi gempar, amat terke-jut karena kemarin belum ada apa - apa, sekarang sudah ada bangunan yang demikian indahnya. Siapakah gerangan yang menciptakannya. Rakyat bertanya - tanya. Tambahan lagi, mengapa pera­jurit Cina yang menjaga dan melarang orang melihat pesang­grahan yang terletak di tengah rawa segara. Bangunan yang sangat indah itu dibangun selesai dalam sehari, sesuai dengan janji dan keinginan Gusti Panembahan.

Diceritakanlah yang ada di keraton. Para nayaka yang menge-tahui bahwa pesanggrahan sudah selesai, ramai membicarakannya. Juga semua abdi dalem keraton menjadi hiruk - pikuk, semua-nya ingin pergi melihatnya.

Mendengar ribut - ribut itu, Gusti Panembahan memerintahkan santana mantri memanggil putra dalem Pakungwati, ialah Pa-ngeran Suryaningrat, cahaya bumi Pakungwati. Pangeran Surya-ningrat dikasihi oleh para pembesar dan rakyat di seiuruh Pakung­wati. Badannya tegap, kulitnya putih. Tampan, tak ada tandingnya di bumi Pakungwati.

Sesudah ada panggilan dari Gusti Panembahan, cepatlah Pa­ngeran Suryaningrat menghadap Gusti Panembahan di Kaputran. "Mas putra Suryaningrat, rupanya Ki Sam Po Khong itu sudah memenuhi janjinya pada diriku. Benar benar pesanggrahan itu su­dah selesai dibangunnyadalam satu hari. Hanya, mengapa sesudah selesai membangun tak ada laporannya," begitu kata Sang Panem­bahan, seperti marah,.terlihat air mukanya terpengaruhi oleh sinar matanya yang membara.

"Sekarang kuberi tugas. Bagus, pergilah ke sana. Tengok pe­sanggrahan itu. Sudah seminggu masih belum ada laporan," kata Sang Panembahan dengan cepat karena sudah hilang kesabarannya.

"Baiklah Ayahanda, saya permisi, mohon restu dan berkah Aya-handa," begitu jawab Pangeran Suryaningrat sambil menyembah. Lalu segera keluardari Kaputran, tidak minta pengawal istana serta. la akan berangkat sendiri dan lagi tangan kosong saja, tanpa mem-bawa senjata pusaka karena bukan akan berangkat perang.

Maka berangkatlah Pangeran Suryaningrat tanpa mengenakan pakaian putra dalem, malahan hanya memakai pakaian rakyat bia­sa. Perginya pun sengaja berjalan kaki saja.

Singkat cerita, PangeraYi Suryaningrat sudah sampai di tempat itu. Dari kejauhan pesanggrahan itu sudah nampak putih bersih di tengah rawa - segera, seperti gunung karang di tengah samudra. Airnya berombak - ombak mengkilap disinari matahari. Sebelah utara dengan yang merah muda, terapung - apung di ombak air. Bahkan ada pula perahu kecil.

"Ah, indah nian," kata Sang Pangeran dalam hatinya. Tetapi ketika melihat ke tengah alun - alun Sipapatahunan, serasa tidak percaya. Mengapa dijaga perajurit Cina begitu rapat dan kuatnya. Dan lagi, mengapa memasang dwaja menantang perang?".

Ketahuilah bahwa jaman dahulu ada tanda - tanda bendera menantang perang, yaitu yang berwarna merah dan dipasang di paling atas di antara semua bendera.

"Betulkah keadaan menjadi begini?" pikir Sang Pangeran sam­bil menggeleng-gelengkan kepala. Serasa tak percaya keadaan itu. Melihat keadaan demikian, masuklah ia ke alun - alun Sipatahunan, dengan maksud ingin bertanya pada perajurit Cina yang berjaga di Pancaniti. Namun, ketika sampai di sisi alun - alun, Sang Pangeran ditangkap oleh perajurit Cina. Katanya melanggar larangannya, ia­lah bahwa barang siapa yang lewat melalui daerah pesanggrahan tentulah akan ditangkap. Sekalipun ayam, kambing, kerbau, kalau lewat ke sana tentu akan di bunuh.

Sang Pangeran ditangkap, beliau tak melakukan perlawanan, tidak mengamuk, tidak marah, bahkan dipegang tangannya pun oleh perajurit Cina, ia sungguh menurut saja. Namun kelihatan pada air mukanya ia menahan rasa sebal di hatinya.

Akhirnya, sang Pangeran dibawa masuk ke dalam pesanggrahan. Di bangsal pelataran disambut senyuman para priyagung Cina, diantaranya Ki Sam Cay Khong, Ki Sam PoToa Lang, dan Ki Sam Po Toa Jin. Adapun Ki Sam Po Khong tidak nampak karena memang tak ada di situ.

"Hayai, selamat dateng tuan Surya," kata Ki Sam Cay Khong sambil tersenyum sombong membuat hati menjadi panas. "Meng-apa aku ditangkap seperti ini, heh?" tanya Sang Pangeran sambil mendongkol.

"Hayai, betul, Pangeran, barang siapa yang bepergian ke sini harus ditangkap. Inilah perintah dari suhengtao Sam Po Khong, meskipun engkau Sang Pangeran, pastilah kutangkap," kata Ki Sam Cay Khong lagi. Adapun ia itu seorang pendeta Budha kawakan dan lagi ia saudagar kaya yang sudah bertahun - tahun tinggal di Cirebon. Mendengar perkataan yang sangat menghina itu Sang Pa­ngeran marah sambil lekas melepaskan diri dari pegangan tangan perajurit Cina, terus bertolak pinggang sambil berkata, "Kurang ajar engkau Ki Sam Cay Khong! Aku kesini rnenagih janji. Sebagian telah kau penuhi, ialah membangun pesanggrahan ini benar - benar selesai dalam waktu sehari, tetapi sedagian lagi belum. Bukanlah kau ketahui bahwa setelah pesanggrahan selesai engkau harus segera memberikan laporan. Jelaslah, engkau ini bukan hanya menyalahi janji pada Gusti Panembahan, rnelainkan juga menging-kari negara Pakungwati. Engkau telah melanggar pemerintah," kata Pangeran dengan keras, matanya mernbeialak basah menahan amarah.

"Sabar, Sang Pangeran, lain dulu lain sekarang. Sekarang, pe­sanggrahan yang telah kubangan ini adaiah milik kami semua. Gusti Pangeran sih hanya sekodar rnemberi perintah," begitulah jawaban para priyagung Cina itu.

"Bagus......... bagus kalau begitu. Aku sudah mengerti seka­rang. Aku ke sini sebagai duta Gusti Panembahan. Kalau engkau benar - benar punya keinginan seperti itu, silakan saja........ Tetapi aku mampu membasmi orang - orang yang mengingkari dan men-cidrai negara. Sekarang engkau jangan banyak bicara. Mau tidak kuajak berunding?" begitu katanya sambil melirik perajurit Cina yang sudah mendekat mengelilinginya.

Sang Pangeran berkata dalam hatinya, "Sayang tak kubawa senjata, ah .... Lillahi ta'ala. Kalau sampai ajalku di sini, aku akan mati membela kebenaran. Demi kepentingan negara dan membela kebenaran aku rela berkorban."

Benarlah sekarang ini sudah tak dapat dengan jalan perunding-an, sudah seharusnya taruhan nyawa. Maka Sang Pangeran pun dikeroyok oleh perajurit Cina di situ. Untunglah ia dapat merebut senjata dari salah seorang pengawal Cina, sebuah golok panjang. Karena memang Sang Pangeran keturunan ningrat yang pandai berperang, ia pun unggul, seperti Kijang Tolengas gesit cekatan. Sebentar saja perajurit Cina sudah bubar bertaburan, bercam-pur darah di tempat berperang.

Sang pangeran sekarang sudah merasa selesai, tinggal me­lawan ketuanya tiga orang, lalu ia sesumbar, menantang, "Mau mati, atau berserah saja pada Gusti Panembahan?" Mungkin karena sudah menjadi rencana mereka, jalannya takdir harus berkelahi, akhirnya Sang Pangeran dikeroyok oleh tiga orang, yang semuanya bersenjata golok panjang. Bunyinya ber-dencingan, kilapnya bergemerlapan kena sinar matahari, tajamnya lebih daripada angin prahara.

Segala macam yang terkena oleh golok itu sirna rata dengan tanah. Sama gesitnya, sama cekatannya, hanya berbeda tenaga saja. Sang Pangeran unggul tenaganya. Lama - kelamaan, akhir­nya priyagung Cina yang tiga orang itu sudah hampir hampir habis nafasnya meskipun mereka sudah sering mengalami peperangan. Pada satu kesempatan golok Ki Sam Po Toa Jin dan Ki Sam Po Toa Lang terpental ketika menangkis sabetan golok Sang Panger­an, tetapi lekas dilayani oleh Ki Sam Cay Khong yang masih nampak segar tenaganya. Melihat kesempatan bagus ini, yang dua orang tadi itu melarikan diri menyebrangi rawa - segara, naik perahu.

Tinggal sekarang perang tanding Sang Pangeran melawan Ki Sam Cay Khong. Sambil menangkis - nangkis sabetan golok Sang Pangeran Ki Sam Cay Khong melirik pada dua orang temannyayang melarikan diri dari tempat berperang itu. la terkejut juga hatinya sebab tahu bahwa Sang Pangeran bukan sembarang orang untuk dilawan. Di samping itu ia melawan hanya dengan sisa tenaganya ditambah tenaga ilmunya. Andaikata Ki Sam Cay Khong bukan jagoan tua, tentulah sudah sejaktadi ia gugur, tapi untung ia banyak ilmunya dan pengalaman perangnya.

Tetapi lawannya kali ini bukan orang sembarangan, masih muda, ilmunya pun jangan dianggap enteng. Seumur hidup ia baru menemui lawan yang demikian tangguhnya. Andaikata dapat dibandingkan dengan ayam jago, Ki Sam Cay Khong itu mahir karena sudah sering bertempur saja, pukulannya sudah nampak berku-rang.

Lama-kelamaan Ki Sam Cay Khong sudah tak mampu lagi memberikan sabetan - sabetan, tetapi sifatnya hanya bertahan se-bab percuma saja semua sabetan goJoknya dari tadi pun hanya mengenai angin. Jelas kelihatan bahwa Ki Sam Cay Khong akan kalah bertempurnya, tetapi andaikata dibandingkan dengan belut masih licin, dibandingkan dengan garuda masih mencari kesempatan lengahnya musuh.

Perang tanding antara kedua orang itu sudah jauh dari daerah pesanggrahan. Di sini sungai yang licin, Ki Sam Cay Khong terpeleset jatuh ke dalam air. Mendadak ia bertambah tenaganya, ia terus segar kembali, rupanya Ki Sam Cay Khong mempunyai ilmu buaya putih.

"Baiklah engkau menyerah saja, Ki Sam Cay!" kala Pangeran Suryaningrat karena golok Ki Sam Cay Khong sudah terlepas ketika tadi ia terpeleset.

Mendadak ia mengajak bertempur dalam air. Tetapi Sang pa­ngeran waspada, jelas Ki Sam Cay Khong pulih tenaganya, serta sekarang dapat memberikan pukulan - pukulan yang mematikan kalau Sang Pangeran tak lekas mengetahuinya. Untunglah Sang Pangeran unggul dalam sabetan - sabetan goloknya. Tepat ketika Ki Sam Cay hendak menikam kepala Sang Pangeran, cepat ia mengelak ke bawah. Tetapi mendadak goloknya menyabet leher Ki Sam Cay dan melesatlah kepalanya keluar dari dalam air, laiu jatuh ke darat menggelinding seperti bola tersepak. Maka air pun bercam-pur darah dan badannya tenggelam.

Terdengar tadi samar - samar suara Ki Sam Cay sebelum kepala lepas dari lehernya, "Ala Cikba." Sudah demikian nasibnya, Ki Sam Cay gugur terpenggal lehernya, kepala terpisah jauh dari badannya. Kepalanya sekarang dimakamkan di desa yang disebut Desa Kalikoa. Kalau kita pergi ke sana, ada kompleks makam yang keli­hatan angker, banyak pohon randu sebesar - besar perut gajah. Di situlah kuburan kepala Ki Sam Cay Khong. Jasadnya tenggelam di sungai yang disebut Kali Sukalila. Daerah Sukalila itu berada di tengah kota Cirebon.

Nah, itulah dongeng "Ngabangun Guha Sunyaragi". Ada pun Pangeran Suryaningrat, setelah selesai menjalankan tugasnya se-gera menghadap dan melaporkan segala sesuatunya pada Gusti Panembahan Cirebon. Karena itu, Pangeran Suryaningrat diangkat menjadi senapati dan diberi nama Pangeran Suryalaga.

Semenjak itu tugas pemeliharaan Taman Air Sunyaragi diserah-kan pada Pangeran Suryalaga. Sampai wafatnya pun Pangeran Suryalaga menjadi penduduk daerah Sunyaragi makamnya ada di Kampung Karangjalak. Alaahu 'alam bis sawab.

(Sumber: Cerita Rakyat Daerah Jawa Barat - Departemen Pendidikan dan Kebudayaan)

Pikukuh Hirup Urang Kanékés


Dihandap ieu kahaturkeun versi anu leuwih kumplit ngeunaan "Pikukuh Hirup Urang Kanekes" sakumaha potonganan anu diposting ku Ambu. Ieu catetan meunang ngahaja nuliskeun deui nalika sim kuring lunta ka wewengkon Kanekes taun 1997, dumasar pinutur sekretaris Jaro Daenah, jaro di Kp. Kadu Ketug anu minangka gapura asup ka wewengkon Tangtu, Kanekes.

Ieu catetan kungsi dipaparinkeun ka Teh Eli Julia samemeh anjeunna angkat nganjang ka Kanekes. Ku anjeunna laju ieu cateta diposting ka milist atangga (teu sawios Teh Eli, teu disebatkeun sumberna oge, rido da keur alarea ieuh):

1. Garapan (cecekelan) hirup urang Kanékés anu dipigawe jeung kudu dilaksanakeun sapopoe, nyaeta pondok teu meunang disambung, lojor teu meunang dipotong. Ari kahirupan Urang Baduy teh titipan ti Adam Tunggal anu disebut Wiwitan. Nyaeta, saluruh bangsa, agama jeung nagara. Ari wiwitanna nyaeta ti nagara puluh tilu pencar salawe nagara, kawan sawidak lima (genep puluh lima). Eta the anu disebut eusi tina jumlah lima puluh dalapan nagara, anu masing-masing boga buyut, boga pantang, boga ulah, jeung boga pamali.

Nagara pikahareupeun mah, bahan diwangun jeung bahan dirobah kudu jadi kamajuan. Ngan ari wiwitan mah anu aya di Baduy, teu meunang dileungitkeun jeung teu meunang dirobah, kudu angger sarua jeung garapan hirupna. Anu jadi sabab, geus aya ti luhurna, nyaeta basa Adam Tunggal ngumpulkeun sakabeh pananggungjawab alam dunya, pikeun nyaksian dijieunna Rukun Larapan Dua Welas, anu bakal ngeusian alam dunya. Ngan garapan ieu teu meunang dijadikeun hiji sabab bisi ngaganggu kana pangwangunan nagara.

2. Wiwitan anu dijadikeun garapan hirup sanajan ditawarkeun ka sakabeh Rukun Garapan Dua Welas, bakal loba anu teu sanggupeun. Tapi, kudu aya anu sanggup nyekel, nyaeta pikeun neguhkeun jeung ngageuingkeun anu aya ti Sabang nepi ka Merauke. Ari wiwitan anu diteguhkeun the nyaeta lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung tea bari ngalaksanakeun

· - Mipit kudu amit

· - Ngala kudu menta

· - Ngagedag kudu bewara

· - Ngali cikur kudu matur

· - Ulah gorah, ulah linyok (bohong)

· - Ngadek kudu sacekna (nu enya kudu dienyakeun, nu ulah kudu diulahkeun)

· - Ulah sirik, ulah pidik

· - Ulah ngarusak bangsa jeung nagara

· - Gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang diruksak.

3. Urang Baduy boga kasanggupan ngadeugkeu, ngageuingkeun, jeung neguhkeun titipan ti wiwitan anu diparentah ku Adam Tunggal. Sanajan kitu, kudu dibantu oge ku anu neguhkeun, anu matuhkeun, jeung anu ngawangun nagara, nyaeta Pamarentah.

4. Sawelas ti Rukun Garapan Dua Welas aya kasanggupan ngabantu neguhkeun jeung matuhkeun wiwitan. Satungtung wiwitan masih keneh diurus ku manusa, makhluk anu sejen mah (saperti siluman/sileman/ghaib) ulah ngabantuan, sanajan maranehna hayangeun jeung mampu.

Manusa anu rame-rame ngabantuan sakamampuanana, sasukana, sakadugana, saweratna, jeung sakawasana, boga ngaran nyaeta Buyut Najra, Buyut Karang, Buyut Bombang, Buyut Para Nabi, jeung Buyut Para Wali. Ngan Buyut Adam Tunggal anu aya di Sabang nepi ka Merauke euweuh eureunna kudu terus neguhkeun wiwitan. Nyekel wiwitan bisa disebutkeun bener, bisa disebutkeun salah. Disebutkeun bener, da aya riwayatna; disebutkeun salah, da euweuh bukuna. Ngan lamun asa-asa jeung kurang percaya, teangan poe 7, bulan 12, tahun 8. Sabulan 30 poe, sataun 360 poe. Lamun ieu hanyang ngoreh atawa hayang nyaho leuwih jero, ulah disusul ka Baduy, jeung ulah nanya ka Puun, tapi teangan dina sajarah alam.

Ari sajarah alam ceuk itungan Urang Baduy euweuhna nepi ka 415 tahun, waktu nagara urang dijajah Walanda. Ti dinya, Sultan Banten mundur eleh ku Walanda, bari aya pamanggilna di birit Leuwi Kadatuan nu ayana di Parakan Dangong; tuluy ditepungkeun ka puun Lanting. Sultan Banten nyarita,

"Kami geus moal bisa neguhkeun wiwitan, ngan omat-omat kudutetep diteguhkeun jeung kudu dipatuhkeun, ulah gedag kalinduan, ulah rigrig kaanginan, jeung ulah limpas kacaahan. Lamun heunteu dipatuhkeun, matak puhpul pangaruh, matak teu meunang juritan, matak cambar kamenakan, matak sangar kanagara, leutik pangarahna jeung leutik pangaruhna ka nagara."

Tah ti dinya Puun Lanting nanya: "Ari sajarah alam aya dimana?"

Sultan ngajawab: "Cenah aya di Bogor"

Puun nanya deui: "Di mana jeung di saha?"

"Di Tanah Sareal, di Pangeran Raja Galeher," jawab Sultan Banten.

Ti dinya langsung bubar, ngan Ratu Banten (Sultan) nyarita,

"Kami mah, lamun asup ka kayu beureum, milu beureum; asup ka kayu putih, milu putih. Ngan omat, bisi aya urang kulit putih jeung urang Cina, eta ulah diasupkeun ka kungkurangan jero Baduy, hususna ka padalaman."

Prinsip hirup, garapan hirup Urang Baduy, nyaeta Baduy Luar ngajaga bari ngabantu tapa Urang Baduy Jero di wiwitan. Ari tapana, lain teu dahar, lain teu nginum, atawa teu sare; ngan tapana tapa bener, kudu ngajaga saluruh alam, kudu neguhkeun jeung kudu matuhkeun cara pamakean garapanana, bari ulah aya anu ngaruksak jeung ulah ngarobah titipan, saperti ngajaga kalestarian alam, di Baduy Jero nyieun imah teu meunang make paku, taneuhna teu meunang diratakeu (kudu sakumaha aslina), anu ngeusian imah teu meunang make emas jeung teu meunang nyeungeut lampu minyak tanah sababna ari minyak tanah mah asalna ti alam dianggap ngaruksak alam lingkungan, meunang ge nyeungeut lampu anu minyakna tina minyak picung atawa minyak kalapa (ramuan alam). Kahirupan Baduy Jero jeung Baduy Luar nyaeta ngahuma, bari taneuhna teu meunang dipacul, kitu deui caina (sirah cai jeung walungan) teu meunang diracun jeung dikotoran lantaran ngaruksak alam.

Pulo Jawa aya riwayatna manjang ti Barat ka Timur, nyaeta nyangsirah ka Ujung Kulon, disebut Sanghyang Sirah, nyaeta sirahna P. Jawa, nunjang ka Blambangan disebut Sanghyang Dampal nyaeta dampalna P. Jawa. Ti Sanghyang Sirah ka Sanghyang Dampal ngabogaan tulang punggung, nyaeta Pagunungan Kendengnu loba sumber caina. Sakabeh manusa kudu ngajaga jeung ngamankeun alam pikeun kahirupan makhluk Alloh SWT.

Ditulis ku Oman Abdurahman

Juma'ah, 29 Pebruari 2008

Jumat, 17 April 2009

Mantra Aji Cakra

Ini Panyukat Aji Cakra
Ku Si Naga Nagini
Sang Manon Sang Matongton
Cupu bahuk udang lulus
Ila-ila ku Sang hyang Waruga Bumi
Ila-ila ku Sang Hyang Waruga Lemah
Satitis Waruga Bumi
Satitis Waruga Lemah
Sang awaking na tutunggul
Megar catang megatkeun apus
Kayu pupug kayu sepug
Kayu ku si balebatan
Kayu ku si Kahuripan
Hurip bayu

Kumeleper buyut agul
Nu neureuy bwana ini
Saha nu kolot sorangan
Basa keur cang keur bungbang
Basa keur lemah.
Langit ngarus Sri Lenggang
Sri maya lenggang
Ngaran lemah caki
Sri Man Sri Wacana
Sri Baduga Maharaja
Sang Ratu Hyang Banaspati
Nu nyahleur di Rancamaya
Ditutug Watubeusi.

Hong hakasa dewakata
Turun bayu ngawisesa awaking
Turun murba ka bwana panca tengah
Ya piyangpi geni,
Ya husipat bwana,
Ya hucaya ning bwana,
Ya husipat langgeng,
Nu ngawisesa di bwana

Sang ratu Libung Gumur
Nu temetes saking Meukah
Nu mungguh saking kidul
Dat muliya sapurna hidattulah

Sang Ratu Kilat Barahma,
Nu temetes saking Meukah
Nu mungguh saking kaler
Twa Darma Makilat
Tumurun saking Meukah,

Nu mungguh saking wetan.
Twa jempi larang,
Tumurun saking Meukah.

E Sang Bapa Putih
Sang Baga lumenggang
Rat muta rat mutayu,
Rat saking urip.

Cuplikan Koropak 421
Sumber : Kosmologi Sunda, Undang A. Darsa & Edi S. Ekadjati, Kiblat – 2006
Disadur ku : Rakean

Kamis, 16 April 2009

Ajian Batara Karang: Ageman Pakeun Jadi Khalifatullah Fil Ardhi !?

 Ku Eddy Nugraha*)
 Kecap petingan: Batara Karang, Adam,  Khalifatullah fil ardhi, Kasumedangan, Sajaratul khuldi, 
 I. Panganteur
Puluhan taun katukang mun teu salah mah taun 80an di daerah Ujung Berung Bandung pernah geger aya tukang gali manggihan mayit nu geus ratusan taun beleger keneh. Harita teh keur usum mindahkeun kuburan umum keur dijieun perumahan, diantara tulang-taleng sesa awak jelema  pas lebah tangkal caringin gede ka gali aya mayit lengkep keneh dibungkus kulit nepi ka buuk-buukna (digelung) bari kukuna paranjang...harita teu kaburu nyaho dikumahakeun eta 
mayit teh, ngan nu jelasmah ceuk cenah matak kitu teh sabab eta jelema baheula teh ngawasa elmu batara karang ...nyaeta cenah elmu kanuragan elmu weduk lir batu karang teu kuat dikadek nepikeun ka paeh ge angger awakna teu busik....hanjakal teu apal dikumahakeun eta mayit teh, nu jelas mah teu dikamusiumkeun.
Sabaraha taun saenggeusna,... ditempat lain, di daerah Tasik pakidulan kabeneran manggihan hal nu sarupa. Waktu warga keur nugar tangkal manggihan deui jasad nu beleger....sarua deui geger...pada silih tanya saha nu ngagangguna  ditambah balarea baroga kasieun ku tulah  tina ngahudangkeun ’jurig’ jawara sabab perbawa tahayul rekaan atina nu cenah pasti baheulana ieu jelema boga ajian batara karang. 
Tapi, kabeneran  papanggihan nu kadua ieu mah bari ditambahan ku nganyahokeun ’solusina’. Sore eta keneh aya kokolot lembur datang  nganggeuskeun pasualan. Eta mayit diasupkeun kana munding –nu geus dipeuncit jeung dikaluarkeun jeroanana heula bari saeunggeus diparancahan bur weh dipiceun ka laut. 
Ngaliwatan dongeng-dongeng jalma rea jeung papanggihan diluhur...
kecap Batara Karang atawa batu karang sakuringeun harita boga rasa kecap nu goreng nyaeta kecap nu ngan dipikaneneh ku  preman, garong, begal, jawara jeung sabaturna nu ngajarago sabab weduk, kalakuana kawas-kawas jauh ti jalma ’bageur’ jauh tina wawadi agama.  Basa hayang nyaho tatanya ge kaburu kandeg dihuitan ku guru ngaji ”ulah ngelmu kitu jang...eta mah elmu teu matak 
sampurna... hirupna sok teu hurip komo aya guna keur papada mah....malah tingali we ku hidep.... geus maot ge awakna teu bisa ruksak teu bisa mulih ka jati mulang ka asal”. 
 Bisa jadi meureun sabab jasad nu lain mah lebur deui jadi taneuh (terurai ku mikroba jadi sirna) ari ieu mah angger teu ruksak...jadi we dianggap teu sampurna. Beu.... padahal lamun bisa teh meureun keun  bae hirup mah kumaha aing weh... ngan geus pasti lamun paeh teh bakal kasohor, Fir’aun ge nepikeun ka ayeuna pada ngadeugdeug sabab aya bukti mayitna - bari manehna mah kudu di balsem...ieu mah teu kudu da kuat sorangan. Lumayan jadi aset wisata pakeun nagri nu loba hutang. 
 Tapi ketang,..... pas rek nambalang teh aya deui ingetan lain: kumaha mun dijadikeun ’percobaan’? jeung diera-era disebut kafir? wah meureun karunya anak incu susaheun bari nyirnakeuna ge kudu nyusahkeun batur sabab mahal kudu meuncit munding sagala..mending lamun mundingna aya keneh lamun ’punah’? meureun anak incu kabere geugeuleuhna...he..he..hanas saaingeun mah keun bae da geus paeh ieuh.  
 Saur guru ngaji di kampung mah kieu ”urang mah kudu diajar bisa innalillahi wa innailaihi raji’un sampurna balik sampurna. Sampurna ning beak sirna raga sirna rasa. Malah kongas cenah luluhur baheula mah nepikeun ka barisa tilem-ngahyang. Jelemana jagjag keneh dina waktuna mulang ka kalanggengan teh bari langsung nyanggakeun badanna ku nyalirana ka nu Maha Suci teu kudu nungguan dibantuan ku alam” (tingali ngeunaan-ngahyang/tilem di alam kami). 
 Atuh niat tatanya ka kolot-kolot lembur tangtung sunda teh jadi pugag harita mah  saba elmu batara karang atawa sok oge disebut  elmu batu karang teh lain ngeunaan kasampurnaan nu oge cenah teu saluyu jeung ajaran agama (islam)....malah-malah di Jawa ge sarua,  diantarana nu didugikeun ku Sunan Mangkurat IV, ieu sesepuh jawa teh masihan wawadi (tingali: Ma’rifat kejawen )yen ulah diajar elmu Batu Karang sabab –singketna- lain elmu kasampurnaan nudipirido ku Allah swt.
 Ngan.....
kadieunakeun aneh pisan.....
Dina ulikan  kasundaan mah....dina salah sahiji ulikan  poko kasumedangan (elmu madangan/nyaangan batur –ulikan advance dina kapajajaranan) salah sahiji atikan pokona teh manusa kudu  JADI Kanyataan Karang. Jadi kanyataan Karang teh cirining kasampurnaan hiji seuweu sunda... sasat-sasat hasil tina ngulik Batara Karang (salian ti jadi kanyataan Ujung Kulon  jeung Ratu Galuh – (tingali: diantarana tulisan ”sasaka kabantenan jeung nanjeurkeun deui Pajajaran tangtung”). 
 Aeh naha jadi muter deui?... panggih deui jeung ajian batara karang ?? boa kasundaan teh  memang enya lain ulikan kasampurnaan?? naha luluhur sunda teh ’kafir musrik nu belegug’? Naha nya....beda jeung ajaran seuweu jawa nu nyaram ngulik elmu batu karang?... tulisan ieu insya Allah rek ngaguar eta akadugana.

Minggu, 12 April 2009

Sejarah Cirebon

KISAH asal-usul Cirebon dapat ditemukan dalam historiografi tradisional yang ditulis dalam bentuk manuskrip (naskah) yang ditulis pada abad ke-18 dan ke-19. Naskah-naskah tersebut dapat dijadikan pegangan sementara sehingga sumber primer ditemukan.

Diantara naskah-naskah yang memuat sejarah awal Cirebon adalah Carita Purwaka Caruban Nagari, Babad Cirebon, Sajarah Kasultanan Cirebon, Babad Walangsungsang, dan lain-lain. Yang paling menarik adalah naskah Carita Purwaka Caruban Nagari, ditulis pada tahun 1720 oleh Pangeran Aria Cirebon, Putera Sultan Kasepuhan yang pernah diangkat sebagai perantara para Bupati Priangan dengan VOC antara tahun 1706-1723. 

Dalam naskah itu pula disebutkan bahwa asal mula kata “Cirebon” adalah “sarumban”, lalu mengalami perubahan pengucapan menjadi “Caruban”. Kata ini mengalami proses perubahan lagi menjadi “Carbon”, berubah menjadi kata “Cerbon”, dan akhirnya menjadi kata “Cirebon”. Menurut sumber ini, para wali menyebut Carbon sebagai “Pusat Jagat”, negeri yang dianggap terletak ditengah-tengah Pulau Jawa. Masyarakat setempat menyebutnya “Negeri Gede”. Kata ini kemudian berubah pengucapannya menjadi “Garage” dan berproses lagi menjadi “Grage”.

Menurut P.S. Sulendraningrat, penanggung jawab sejarah Cirebon, munculnya istilah tersebut dikaitkan dengan pembuatan terasi yang dilakukan oleh Pangeran Cakrabumi alias Cakrabuana. Kata “Cirebon” berdasarkan kiratabasa dalam Bahasa Sunda berasal dari “Ci” artinya “air” dan “rebon” yaitu “udang kecil” sebagai bahan pembuat terasi. Perkiraan ini dihubungkan dengan kenyataan bahwa dari dahulu hingga sekarang, Cirebon merupakan penghasil udang dan terasi yang berkualitas baik.

Berbagai sumber menyebutkan tentang asal-usul Sunan Gunung Jati, pendiri Kesultanan Cirebon. Dalam sumber lokal yang tergolong historiografi, disebutkan kisah tentang Ki Gedeng Sedhang Kasih, sebagai kepala Nagari Surantaka, bawahan Kerajaan Galuh. Ki Gedeng Sedhang Kasih, adik Raja Galuh, Prabu Anggalarang, memiliki puteri bernama Nyai Ambet Kasih. Puterinya ini dinikahkan dengan Raden Pamanah Rasa, putra Prabu Anggalarang.

Karena Raden Pamanah Rasa memenangkan sayembara lalu menikahi puteri Ki Gedeng Tapa yang bernama Nyai Subanglarang, dari Nagari Singapura, tetangga Nagari Surantaka. Dari perkawinan tersebut lahirlah tiga orang anak, yaitu Raden Walangsungsang, Nyai Lara Santang dan Raja Sangara. Setelah ibunya meninggal, Raden Walangsungsang serta Nyai Lara Santang meninggalkan Keraton, dan tinggal di rumah Pendeta Budha, Ki Gedeng Danuwarsih.

Puteri Ki Gedeng Danuwarsih yang bernama Nyai Indang Geulis dinikahi Raden Walangsungsang, serta berguru Agama Islam kepada Syekh Datuk Kahfi. Raden Walangsungsang diberi nama baru, yaitu Ki Samadullah, dan kelak sepulang dari tanah suci diganti nama menjadi Haji Abdullah Iman. Atas anjuran gurunya, Raden Walangsungsang membuka daerah baru yang diberi nama Tegal Alang-alang atau Kebon Pesisir. Daerah Tegal Alang-alang berkembang dan banyak didatangi orang Sunda, Jawa, Arab, dan Cina, sehingga disebutlah daerah ini “Caruban”, artinya campuran. Bukan hanya etnis yang bercampur, tapi agama juga bercampur.

Atas saran gurunya, Raden Walangsungsang pergi ke Tanah Suci bersama adiknya, Nyai Lara Santang. Di Tanah Suci inilah, adiknya dinikahi Maulana Sultan Muhammad bergelar Syarif Abdullah keturunan Bani Hasyim putera Nurul Alim. Nyai Lara Santang berganti nama menjadi Syarifah Mudaim.

Dari perkawinan ini, lahirlah Syarif Hidayatullah yang kelak menjadi Sunan Gunung Jati. Dilihat dari Genealogi, Syarif Hidayatullah yang nantinya menjadi salahseorang Wali Sanga, menduduki generasi ke-22 dari Nabi Muhammad.

Sesudah adiknya kawin, Ki Samadullah atau Abdullah Iman pulang ke Jawa. Setibanya di tanah air, mendirikan Masjid Jalagrahan, dan membuat rumah besar yang nantinya menjadi Keraton Pakungwati. Setelah Ki Danusela meninggal Ki Samadullah diangkat menjadu Kuwu Caruban dan digelari Pangeran Cakrabuana. Pakuwuan ini ditingkatkan menjadi Nagari Caruban larang. Pangeran Cakrabuana mendapat gelar dari ayahandanya, Prabu Siliwangi, sebagai Sri Mangana, dan dianggap sebagai cara untuk melegitimasi kekuasaan Pangeran Cakrabuana.

Setelah berguru di berbagai negara, kemudian berguru tiba di Jawa. Dengan persetujuan Sunan Ampel dan para wali lainnya disarankan untuk menyebarkan agama Islam di Tatar Sunda. Syarif Hidayatullah pergi ke Caruban Larang dan bergabung dengan uwaknya, Pangeran Cakrabuana. Syarif Hidayatullah tiba di pelabuhan Muara Jati kemudian terus ke Desa Sembung-Pasambangan, dekat Amparan Jati, dan mengajar Agama Islam, menggatikan Syekh Datuk Kahfi.

Syekh Jati juga mengajar di dukuh Babadan. Di sana ia menemukan jodohnya dengan Nyai Babadan Puteri Ki Gedeng Babadan. Karena isterinya meninggal, Syekh Jati kemudian menikah lagi dengan Dewi Pakungwati, puteri Pangeran Cakrabuana, disamping menikahi Nyai Lara Bagdad, puteri sahabat Syekh Datuk Kahfi.

Syekh Jati kemudian pergi ke Banten untuk mengajarkan agama Islam di sana. Ternyata Bupati Kawunganten yang keturunan Pajajaran sangat tertarik, sehingga masuk Islam dan memberikan adiknya untuk diperistri. Dari perkawinan dengan Nyai Kawunganten, lahirlah Pangeran Saba Kingkin, kelak dikenal sebagai Maulana Hasanuddin pendiri Kerajaan Banten. Sementara itu Pangeran Cakrabuana meminta Syekh Jati menggantikan kedudukannya dan Syarif Hidayatullah pun kembali ke Caruban. Di Cirebon ia dinobatkan sebagai kepala Nagari dan digelari Susuhunan Jati atau Sunan Jati atau Sunan Caruban atau Cerbon. Sejak tahun 1479 itulah, Caruban Larang dari sebuah nagari mulai dikembangkan sebagai Pusat Kesultanan dan namanya diganti menjadi Cerbon.

Pada awal abad ke-16 Cirebon dikenal sebagai kota perdagangan terutama untuk komoditas beras dan hasil bumi yang diekspor ke Malaka. Seorang sejarawan Portugis, Joao de Barros dalam tulisannya yang berjudul Da Asia bercerita tentang hal tersebut. Sumber lainnya yang memberitakan Cirebon periode awal, adalah Medez Pinto yang pergi ke Banten untuk mengapalkan lada. Pada tahun 1596, rombongan pedagang Belanda dibawah pimpinan Cornellis de Houtman mendarat di Banten. Pada tahun yang sama orang Belanda pertama yang datang ke Cirebon melaporkan bahwa Cirebon pada waktu itu merupakan kota dagang yang relatif kuat yang sekelilingnya dibenteng dengan sebuah aliran sungai.

Sejak awal berdirinya, batas-batas wilayah Kesultanan Cirebon termasuk bermasalah. Hal ini disebabkan, pelabuhan Kerajaan Sunda, yaitu Sundakalapa berhasil ditaklukan. Ketika Banten muncul sebagai Kesultanan yang berdaulat ditangan putra Susuhunan Jati, yaitu Maulana Hasanuddin, masalahnya timbul, apakah Sunda Kalapa termasuk kekuasaan Cirebon atau Banten?

Bagi Kesultanan Banten, batas wilayah ini dibuat mudah saja, dan tidak pernah menimbulkan konflik. Hanya saja pada tahun 1679 dan 1681, Cirebon pernah mengklaim daerah Sumedang, Indramayu, Galuh, dan Sukapura yang saat itu dipengaruhi Banten, sebagai wilayah pengaruhnya.

Pada masa Panembahan Ratu, perhatian lebih diarahkan kepada penguatan kehidupan keagamaan. Kedudukannya sebagai ulama, merupakan salah satu alasan Sultan Mataram agak segan untuk memasukkan Cirebon sebagai daerah taklukan. Wilayah Kesultanan Cirebon saat itu meliputi Indramayu, Majalengka, Kuningan, Kabupaten dan Kotamadya Cirebon sekarang. Ketika Panembahan Ratu wafat, tahun 1649 ia digantikan oleh cucunya Panembahan Girilaya atau Panembahan Ratu II. Dari perkawinannya dengan puteri Sunan Tegalwangi, Panembahan Girilaya memiliki 3 anak, yaitu Pangeran Martawijaya, Pangeran Kertawijaya, dan Pangeran Wangsakerta. Sejak tahun 1678, di bawah perlindungan Banten, Kesultanan Cirebon terbagi tiga, yaitu pertama Kesultanan Kasepuhan, dirajai Pangeran Martawijaya, atau dikenal dengan Sultan Sepuh I. Kedua Kesultanan Kanoman, yang dikepalai oleh Pangeran Kertawijaya dikenal dengan Sultan Anom I dan ketiga Panembahan yang dikepalai Pangeran Wangsakerta atau Panembahan Cirebon I.

Kota Cirebon tumbuh perlahan-lahan. Pada tahun 1800 Residen Waterloo mencoba membuat pipa saluran air yang mengalir dari Linggajati, tetapi akhirnya terbengkalai. Pada tahun 1858, di Cirebon terdapat 5 buah toko eceran dua perusahaan dagang. Pada tahun 1865, tercatat ekspor gula sejumlah 200.000 pikulan (kuintal), dan pada tahun 1868 3 perusahaan Batavia yang bergerak di bidang perdagangan gula membuka cabangnya di Cirebon. Pada tahun 1877, di sana sudah berdiri pabrik es, dan pipa air minum yang menghubungkan sumur-sumur artesis dengan perumahan dibangun pada tahun 1877. Pada awal abad ke-20, Cirebon merupakan salahsatu dari lima kota pelabuhan terbesar di Hindia Belanda, dengan jumlah penduduk 23.500 orang. Produk utamanya adalah beras, ikan, tembakau dan gula.***

(Nina H. Lubis (ed.), Sejarah Kota-kota Lama di Jawa Barat, 2000.)